Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Ekspor Impor. Show all posts
Showing posts with label Ekspor Impor. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

NILAI EKSPOR BENGKULU TURUN 34,92 PERSEN

Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu mencatat, nilai ekspor pada November 2012 sebesar 16,901 juta dolar AS atau turun sebesar 34,92 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Oktober 2012 yang tercatat sebesar 25,971 juta dolar As.

"Nilai ekspor Bengkulu pada November 2012 mengalami penurunan cukup signifikan yakni 34,29 persen, terutama akibat melemahnya harga komoditas tambang dan perkebunan," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu Djoko Santoso di Bengkulu, Kamis.

Ia mengatakan, berdasarkan komoditas, nilai ekspor batu bara dari provinsi ini tercatat sebesar 13,155 juta dolar AS atau turun sebesar 41,95 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Oktober 2012 yang tercatat sebesar 22,663 juta dolar AS.

Sedangkan nilai ekspor karet turun sebesar 5,39 persen atau senilai 2,635 juta dolar AS, sedangkan pada Oktober 2012 tercatat sebesar 2,785 juta dolar AS.

Sementara nilai ekspor cangkang sawit tercatat sebesar 1,111 juta dolar AS atau naik sebesar 112,43 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Oktober 2012 yang tercatat sebesar 523 ribu dolar AS.

"Nilai ekspor cangkang sawit mengalami peningkatan yang sangat drastis dibanding dua komoditas ekspor unggulan yakni batu bara dan karet," tambahnya.

Djoko menambahkan bahwa nil0ai ekspor Provinsi Bengkulu pada Januari hingga November 2012 tercatat sebesar 245,702 juta dolar AS atau naik sebesar 9,79 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Januari hingga November 2011 yang tercatat sebesar 223,783 juta dolar AS.

Berdasarkan komoditas, nilai ekspor batu bara pada Januari hingga November 2012 tercatat sebesar 210,6813 juta dolar AS atau naik sebesar 36,22 persen bila dibandingkan pada Januari hingga November 2011 yang tercatat sebesar 154,660 juta dolar AS.

Sementara nilai ekspor karet pada Januari hingga November 2012 tercatat sebesar 28,066 juta dolar As atau turun sebesar 53,74 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Januari hingga November 2011 yang tercatat sebesar 60,669 juta dolar AS.

Sedangkan nilai ekspor cangkang sawit pada Januari hingga November 2012 tercatat sebesar 6,010 juta dolar AS atau naik sebesar 12,02 persen bila dibandingkan pada Januari hingga November 2011 yang tercatat sebesar 5,365 juta dolar AS.

"Nilai ekspor biji besi pada Januari hingga November 2012 tercatat sebesar 945 ribu dolar AS atau turun sebesar 69,40 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Januari hingga November 2011 yang tercatat sebesar 3,088 juta dolar As," katanya.

Pada November 2012, nilai ekspor berbagai komoditas ke India mencapai angka terbesar yakni 4,651 juta dolar AS atau 27,52 persen dari keseluruhan ekspor, diikuti Philipina 3,444 juta dolar AS atau 20,38 persen, Amerika Serikat 2,635 juta dolar AS atau 15,59 persen, Korea Selatan 1,958 juta dolar AS atau 11,59 persen.

Selanjutnya China 1,373 juta dolar AS atau 8,12 persen, Malaysia 1,130 juta dolar AS atau 6,68 persen, Thailand 1,111 juta dolar AS atau 6,57 persen dan Vietnam 599 ribu dolar AS atau 3,55 persen.(ant)

Sunday, December 2, 2012

DISBUN SIAPKAN KOMODITAS EKSPOR BERSERTIFIKAT ORGANIK

Dinas Perkebunan Provinsi Bali menyiapkan sejumlah produk komoditas ekspor bersertifikat organik agar bisa bersaing di pasar internasional.

"Pengajuan sertifikat organik itu merupakan upaya mempersiapkan produk hasil perkebunan Pulau Dewata berkiprah dalam pasar bebas 2015," kata Kepala Seksi dan Sarana Usaha Dinas Perkebunan Provinsi Bali, IGA A Oka Antari, di Denpasar, Minggu.

Menurut dia ada beberapa jenis produk yang diajukan untuk memperoleh sertifikasi organik pada tahun ini, di antaranya kopi arabika dan jambu mete.

Sertifikasi tersebut diajukan ke sebuah lembaga sertifikasi standar yang berasal dari Jawa Timur.

"Dengan sertifikasi itu, produk perkebunan akan memiliki standar keamanan pangan dan kualitasnya pun terjamin karena terbebas dari bahan kimia," ujarnya.

Menurut dia jambu mete organik hasil panen petani di Bali diminati masyarakat di sejumlah negara di Eropa dan Asia. "Ekspor jambu mete dari Bali rata-rata 125 ton per tahun," katanya.

"Jumlah tersebut seusai dengan permintaan pengekspor, PT Profil Mitra Abadi yang berkantor pusat di Tangerang, Banten," katanya.(ant)

Saturday, December 1, 2012

EKSPOR BALI KE AS MASIH MENGGEMBIRAKAN

Realisasi ekspor aneka barang industri kecil dan kerajinan, hasil pertanian, perkebunan maupun perikanan Bali ke Amerika Serikat masih menggembirakan, walaupun negeri itu masih mengalami krisis ekonomi.

Konsumen AS hingga kini masih merupakan pembeli terbesar aneka barang kerajinan masyarakat Bali, kata Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar Sabtu.

Perolehan devisa nonmigas Bali selama Januari-September 2012 mencapai 353 juta dolar AS, sekitar 25 persen atau 88,5 juta dolar diantaranya adalah hasil perdagangan ke negeri Paman sam tersebut.

Walau perekonomian negeri adidaya itu diperkirakan tumbuh hanya 2,9 persen tahun 2010 dan pemulihan ekonomi lamban, tetapi konsumen Amerika Serikat masih merupakan pembeli terbesar aneka barang kerajinan masyarakat Bali.

Importir asal negeri Paman Sam tersebut umumnya membeli aneka kerajinan berupa patung kayu jenis kontemporer yang banyak diminati masyarakat setempat, karena harga terjangkau dan kualitas yang disuguhkan setimpal.

Pakaian jadi juga banyak dikapalkan ke negeri itu, disamping hasil perkebunan berupa Vanili, sebagai bahan baku makanan ringan, serta ikan jenis tuna segar maupun yang sudah dibekukan, memperbesar perolehan devisa dari AS.

Pembeli aneka barang kerajinan bernilai seni buatan masyarakat Bali setelah AS adalah konsumen asal Jepang yang berada di peringkat kedua dengan membeli seluruhnya seharga 52,8 juta dolar selama Januari-September 2012.

Mata dagangan yang dibeli importir negeri Sakura tersebut sebagian besar adalah hasil perikanan, tambah putu Bagiada, sambil menyebutkan Australia adalah pembeli terbesar ketiga dengan 23,8 juta dolar.

Sementara konsumen Prancis yang terkenal menginginkan aneka barang seni jenis antik berada diurutan empat dengan mengeluarkan devisa 22 juta dolar untuk membeli aneka ragam barang aksesori buatan masyarakat Pulau Dewata.

Aneka barang kerajinan bernilai seni buatan masyarakat Bali laku keras di pasaran ekspor, karena para importir akan menjual kembali setelah tiba di negaranya, seperti di AS, Jepang, Belanda, Singapura dan sebagainya.

Semakin lancar realisasi ekspor Bali berkat kondisi ekonomi global semakin membaik, terutama di negara konsumen Jepang dan Eropa, maka diharapkan mampu meningkatkan realisasi ekspor nonmigas Bali, harap Bagiada.(ant)